Episode 7
Ya Allah bantu hamba,,,
Lembaran kusam berikutnya kutuliskan cerita kegundahanku bersama sang hati.
Di bawah pohon yang rindang ini aku sedang memikirkan sesuatu yang sangat urgent menurutku untuk keadaanku saat ini, aku merasa sangat berat, astaghfirullah, inikah cobaan untukku dan peringatan agar aku semakin dekat denganmu ya Rabb, aku mohon ampunanmu, dan aku takut dengan cobaan yang seperti ini aku malah jauh dariMu. Aku harus tabah, aku baru bisa merasakan saat ini aku merasa sulit dan merasakan menjadi anak kos, makan mencari sendiri gaya hidup, sholat dan semuanya serba mandiri, berbuat salah tidak ada yang mengingatkan jika tak ada makan tak ada pula yang tahu, semua serba mandiri.
Ini sangat berbeda dibanding ketika aku masih di semester satu, aku berada di pondok dan masalah makan telah disediakan di pondok satu hari 3 kali, ketika aku telat ke masjid mendapat teguran, ketika aku berbuat salah teman- teman selalu mengingatkan meskipun terkadang hanya mendiamkan, tetapi diam mereka adalah salah satu teguran untukku saat aku benar- benar di jalan yang tidak sesuai.
Aku sekarangpun menyadari bahwa hidup di kos dan di pondok begitu berbeda, aku pun ingin kembali ke pondokku yang dulu bersama teman- teman dan sahabat yang begitu mngerti keadaanku, tetapi disisi lain inilah jalan yang telah aku ambil dahulunya sebelum aku pindah dari pondok ke kos- kosan, dan aku pula yang harus menerima dan mempertanggungjawabkan keputusan yang telah aku ambil.
Waktu terus berjalan tak mungkin aku dapat memutarnya kembali, semua sudah terjadi dan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan aku harus berusaha menepis segala sesuatu yang menghalangiku menuju kesuksesanku kelak, akupun berkeyakinan pasti semuanya.
Daaan ….
Lagi- lagi ia datang dengan sejuta harapan dan kerinduan, ingin ku hapus rasa itu dengan paksaan, namun tak mampu, rasa itu telah menusuk di dalam hati. Tapi hai yang sesungguhnya aku telah melupakannya, iya melupakannya. Untuk selamanya, dan rasa itu menjadi teman seutuhnya, karena penghianatan menyelimutinya dan bayangan kisah pahit dahulu terus tertanam dalam. Lupakan dan lupakan.
Siang yang terik, ku sujudkan wajah ini kepada illahi Robbi, seluruh gerakan kulakukan dengan lumayan khusyu’. Setelahnya sholatpun tak lupa ku tengadahkan kedua telapak tanganku, ku lantunkan asma Allah dan dzikir sejenak, hati kecilku berbisik dan otakku memikirkan seseorang yang ada jauh disana, “Ya Allah, Kau Maha pemberi ampunan, ampunilah dosaku, segala kesalahan hambamu ini, berilah kesabaran pada hamba yang tak sempurna ini, jaga hati hamba ini ya Robb dari segala godaan, dan berikan kesuksesan untuk hamba ini dan berilah kesuksesan untuk dia yang disana, pertemukan hamba dengannya ketika kelak kami sama-sama sukses Ya Allah... jagalah ia selalu. Dan air mataku terus membasahi pipi ini karena mengingatnya, dia akan pergi jauh dan apakah setelah kesuksesannya aku akan diingat, aku khawatir semua berubah karena situasi. Perasaan ini tetap ada, dan terus ada di dalam sanubariku kasih.
Lembaran kusam berikutnya kutuliskan cerita kegundahanku bersama sang hati.
Di bawah pohon yang rindang ini aku sedang memikirkan sesuatu yang sangat urgent menurutku untuk keadaanku saat ini, aku merasa sangat berat, astaghfirullah, inikah cobaan untukku dan peringatan agar aku semakin dekat denganmu ya Rabb, aku mohon ampunanmu, dan aku takut dengan cobaan yang seperti ini aku malah jauh dariMu. Aku harus tabah, aku baru bisa merasakan saat ini aku merasa sulit dan merasakan menjadi anak kos, makan mencari sendiri gaya hidup, sholat dan semuanya serba mandiri, berbuat salah tidak ada yang mengingatkan jika tak ada makan tak ada pula yang tahu, semua serba mandiri.
Ini sangat berbeda dibanding ketika aku masih di semester satu, aku berada di pondok dan masalah makan telah disediakan di pondok satu hari 3 kali, ketika aku telat ke masjid mendapat teguran, ketika aku berbuat salah teman- teman selalu mengingatkan meskipun terkadang hanya mendiamkan, tetapi diam mereka adalah salah satu teguran untukku saat aku benar- benar di jalan yang tidak sesuai.
Aku sekarangpun menyadari bahwa hidup di kos dan di pondok begitu berbeda, aku pun ingin kembali ke pondokku yang dulu bersama teman- teman dan sahabat yang begitu mngerti keadaanku, tetapi disisi lain inilah jalan yang telah aku ambil dahulunya sebelum aku pindah dari pondok ke kos- kosan, dan aku pula yang harus menerima dan mempertanggungjawabkan keputusan yang telah aku ambil.
Waktu terus berjalan tak mungkin aku dapat memutarnya kembali, semua sudah terjadi dan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan aku harus berusaha menepis segala sesuatu yang menghalangiku menuju kesuksesanku kelak, akupun berkeyakinan pasti semuanya.
Daaan ….
Lagi- lagi ia datang dengan sejuta harapan dan kerinduan, ingin ku hapus rasa itu dengan paksaan, namun tak mampu, rasa itu telah menusuk di dalam hati. Tapi hai yang sesungguhnya aku telah melupakannya, iya melupakannya. Untuk selamanya, dan rasa itu menjadi teman seutuhnya, karena penghianatan menyelimutinya dan bayangan kisah pahit dahulu terus tertanam dalam. Lupakan dan lupakan.
Siang yang terik, ku sujudkan wajah ini kepada illahi Robbi, seluruh gerakan kulakukan dengan lumayan khusyu’. Setelahnya sholatpun tak lupa ku tengadahkan kedua telapak tanganku, ku lantunkan asma Allah dan dzikir sejenak, hati kecilku berbisik dan otakku memikirkan seseorang yang ada jauh disana, “Ya Allah, Kau Maha pemberi ampunan, ampunilah dosaku, segala kesalahan hambamu ini, berilah kesabaran pada hamba yang tak sempurna ini, jaga hati hamba ini ya Robb dari segala godaan, dan berikan kesuksesan untuk hamba ini dan berilah kesuksesan untuk dia yang disana, pertemukan hamba dengannya ketika kelak kami sama-sama sukses Ya Allah... jagalah ia selalu. Dan air mataku terus membasahi pipi ini karena mengingatnya, dia akan pergi jauh dan apakah setelah kesuksesannya aku akan diingat, aku khawatir semua berubah karena situasi. Perasaan ini tetap ada, dan terus ada di dalam sanubariku kasih.
Komentar
Posting Komentar