Episode 5

Menangis,,,,
Saat ini aku hanya bisa menangis, dan menyepi sendiri di pojokan kamar, aku tak bisa lagi menahan air mataku saat ini, mungkin benar memang saat ini aku harus selalu introspeksi diri, apalagi calon penghafal Al- Qur’an, semua butuh pensucian diri karena Al- qur’an itu suci dan tidak sembarang orang Al- Qur’an itu bisa menyatu, termasuk aku, yang masih sangat banyak diperbaiki dari aku, mulai dari Akhlaqku perilaku ku, adabku, pergaulanku dan banyak lagi, apalagi setelah aku izin, semuanya di ungkapkan, muali dari aku jarang piket aku setiap belang belum bisa mencapai target, pulang malam dan masih banyk lagi kekuranganku, aku sadari aku lakukan itu ya karena aku ingin sedikit merasakan kebersamaan di luar bersama- teman- teman, tapi ternyat itu salah, tidak seharusnya seorang perempuan pergi pada malam hari apalagi laki- laki dan perempuan gabung disitu, pertimbangan lain mengapa musrifahku tidak mengizinkaku untuk ke kudus yaitu karena itu bersama teman- teman lelaki, kalaupun itu untuk akhwat saja, beliau akan mengizinkan.
Memang aku rasakan ini sangat berat ketika dahulu aku sangat menginginkan untuk bisa pergi ke kudus bersama teman- teman untuk melihat bagaimanakah lembaga seni kaligrafi itu, gimana sebenarnya bapak asyiri itu, itu semua ketika sekarang itu sudah di depan mata tinggal melangkah ternyata belum bisa aku kesana dari pihak pondok belum mengizinkan, mungkin belum saatnya aku pergi kesana, entahlah,, aku yakin pasti Allah akan memberi gantinya nanti yang lebih indah dan Semoga Allah memperkenankanku untuk bisa rihlah ke luar negeri, turki, Pasria, mesir dan yang lainnya, amiin. Aku yakin Allah pasti punya rencana yang lebih baik untuk semua hambanya. Dan inilah yag harus dilalui jika ingin mencapai kesuksesan.
Aku juga sempat bertanya dan meminta masukan oleh Bapak Kajurku ketika usai aku masuk mata kuliah nahwu, aku ungkapkan semua yang aku rasakan, meskipun beliau terlihat santai, tetapi beliau tetap memberi solusi yang baik, rangkaian kata yang bisa aku ambil dari nasehat beliau adalah, “Untuk Meraih Sesuatu yang Besar menang Butuh Perjuangan yang besar pula” dan banyak cerita dari beliau yang aku ambil, kakak beliau bisa menghafal tanpa butuh guru pembimbing, ia menghafal terus hingga selesai setelah itu baru beliau menyetorkan semua nya kepada pembimbing.
Banyak pilihan yang beliau tawrkan, bisa aku masih bertahan mondok lanjutkan perjuangan untukmenghafal Al- Qur’an dan bisa keluar di kos atau selain pondok tetapi dengan catatan aku harus bisa mmenej waktu dengan sebaik- baiknya, itulah nasehat beliau, dan aku meminta masukan apa yang terbaik wahai ustadz? ustadzku pun menjawab: iya bertahanlah di pondok, dan berjuanglah sekuat tenaga maksimalkan apa yang ada pada diri kamu sendiri seimbangkan antara kaligrafi dan Tahfidz kamu, pasti akn menjadi orang yang hebat.
Apakah harus....?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara membuat kaligrafi cabang hiasan mushaf

Taman pelangi monjali