Episode 6
Ya Allah inikah pilihan??
Dan inilah cerita kehidupanku di kota perantauan, dan akhirnya setelah aku 1 tahun di pondok pesantren akhirnya aku mencoba memilih dengan hidup di kos- kosan yang ala- ala asrama.dan inilah cerita pertamaku di kos, sungguh aku merindukan pondok pesantren.
Ketika aku benar- benar di ujung tanduk serasa hati ingin berteriak mengungkapkan semua kegundahan dalam diri ini, Yarabb kuatkan hamba mu yang lemah ini, aku benar- benar telah merasakan sebuah kebertolakan antara hati dan realita. Aku sekarang hidup di pondok sedangkan aku tidak bisa berbuat apa- apa, padahala aku seoarang yang tidak ingin diam dalam segala aktivitas, kalaupun kebanyakan diam pasti malah mengantuk.
Aku benar- benar ingin mencari suasana lain, aku mengalami sebuah kebosanana berada di lingkungan pondok sejak SMP, entahlah, aku aktiv dan disisi lain aku ingin mengembangkan kaligrafiku, aku ingin maksimal disitu tanpa ada pengorbanan pada aktivitas yang lain, dari apada kau terus berada di pondok ini aku tidak bisa maksimal dalam kaligrfai dan pelajaran kampus seperti bahasa arab pun tak jarang aku harus bekerja lebih ekstra karena di pondok tidak ada kajian kitab.
Tadi setelah aku mengrjakan karya, aku meminta izin kepada pembina untuk pulang telat, ya karena aku mengerjakan karya itu, akan tetapi aku hanya diberi kesempatan hingga isya’, begitu nakalanya aku menambahi waktu itu hingga jam 8, ya allah ampuni hambamu ini,aku pun merasa khawatir karya aku belum selesai sedangkan aku harus kembali ke pondok isya’, posisi sangat rumit. Ketika disana aku merasa bahagia karena berada di dekat keluarga kaligrafi, aku seperti tidak ada beban karena diberengi dengan canda tawa, yang tidak bisa aku ungkapkan dengan untaian kata seindah apapun, semua berjalan dengan selaras.
Ketika aku meminta izin kepada salaha satu kakakku disana, “aku harus pulang, aku takut dimarahi oleh musrifahku”, temanku pun menanggapi denga sedikit canda, mereka berkata, “udah peh keluar aja dari pondok, demi cita- citamu”, aku mnyahuti mereka, “ eh jangan seprti itu, belum waktunya.” Begitulah canda tawa dilontarkan oleh hampir semua kawanku, mulai dari emakku abangku dan kakak- kakaku. Tantangan lagi untuk diriku, dua hari yang lalu aku meminta pendapat dari mulai ketua jurusan/ prodi, teman yang berad di pondok dan teman yang benar- benar berada di luar atau diistilahkan kos. Mereka semua memberi saran padaku terserah pada diri kamu sendiri yang bisa menentukan keputusanmu pun ya kamu karena kamu telah dewasa, nah gelar DEWASA inilah yang membuatku semakin tertantang apa makna dari dewasa ini, mau tidak mau aku tetap akn menjadi dewasa. Harus bisa menyelesaikan masalah sendiri dan mencoba tidak lari dari sebuah masalah.
Nah setelah itu aku berfikir aku saatnya untuk mencari suasana baru, namun lagi- lagi ada banyak ketakutan yang ada di benakku. Sudahlah,, aku mendengar suara musrifah saja takutnya bukan main, ketika ingin mengambil nasi kok tiba- iba ada suara itu aku mending tidak makan. Ini bukan dewasa, aku masih kekanak- kanakan. Sekarang ini akau memiliki PR bagaimana akau bisa menghadapi semua ini tanpa harus membuat nama baik tercoreng, prinsipku dimanapun aku harus memberi kesan yang baik terhadap semuanya, aku harus bisa memberikan sebuah penghargaan untuk para musrifahku, karena tanpa mereka pun aku tidak diperhatikan. Sungguh perjalanan hidup memang terkadang harus seperti ini.
Pertanyaan besar di benakku, “APAKAH FUNGSI DARI SEBUAH PILIHAN ITU HARUS SELALU UNTUK IPILIH SALAH SATU, DAN YANG BENAR HANYA SATU?” bisakah fungsi itu dihilangkan? Ataupun diganti?..
Dan inilah cerita kehidupanku di kota perantauan, dan akhirnya setelah aku 1 tahun di pondok pesantren akhirnya aku mencoba memilih dengan hidup di kos- kosan yang ala- ala asrama.dan inilah cerita pertamaku di kos, sungguh aku merindukan pondok pesantren.
Ketika aku benar- benar di ujung tanduk serasa hati ingin berteriak mengungkapkan semua kegundahan dalam diri ini, Yarabb kuatkan hamba mu yang lemah ini, aku benar- benar telah merasakan sebuah kebertolakan antara hati dan realita. Aku sekarang hidup di pondok sedangkan aku tidak bisa berbuat apa- apa, padahala aku seoarang yang tidak ingin diam dalam segala aktivitas, kalaupun kebanyakan diam pasti malah mengantuk.
Aku benar- benar ingin mencari suasana lain, aku mengalami sebuah kebosanana berada di lingkungan pondok sejak SMP, entahlah, aku aktiv dan disisi lain aku ingin mengembangkan kaligrafiku, aku ingin maksimal disitu tanpa ada pengorbanan pada aktivitas yang lain, dari apada kau terus berada di pondok ini aku tidak bisa maksimal dalam kaligrfai dan pelajaran kampus seperti bahasa arab pun tak jarang aku harus bekerja lebih ekstra karena di pondok tidak ada kajian kitab.
Tadi setelah aku mengrjakan karya, aku meminta izin kepada pembina untuk pulang telat, ya karena aku mengerjakan karya itu, akan tetapi aku hanya diberi kesempatan hingga isya’, begitu nakalanya aku menambahi waktu itu hingga jam 8, ya allah ampuni hambamu ini,aku pun merasa khawatir karya aku belum selesai sedangkan aku harus kembali ke pondok isya’, posisi sangat rumit. Ketika disana aku merasa bahagia karena berada di dekat keluarga kaligrafi, aku seperti tidak ada beban karena diberengi dengan canda tawa, yang tidak bisa aku ungkapkan dengan untaian kata seindah apapun, semua berjalan dengan selaras.
Ketika aku meminta izin kepada salaha satu kakakku disana, “aku harus pulang, aku takut dimarahi oleh musrifahku”, temanku pun menanggapi denga sedikit canda, mereka berkata, “udah peh keluar aja dari pondok, demi cita- citamu”, aku mnyahuti mereka, “ eh jangan seprti itu, belum waktunya.” Begitulah canda tawa dilontarkan oleh hampir semua kawanku, mulai dari emakku abangku dan kakak- kakaku. Tantangan lagi untuk diriku, dua hari yang lalu aku meminta pendapat dari mulai ketua jurusan/ prodi, teman yang berad di pondok dan teman yang benar- benar berada di luar atau diistilahkan kos. Mereka semua memberi saran padaku terserah pada diri kamu sendiri yang bisa menentukan keputusanmu pun ya kamu karena kamu telah dewasa, nah gelar DEWASA inilah yang membuatku semakin tertantang apa makna dari dewasa ini, mau tidak mau aku tetap akn menjadi dewasa. Harus bisa menyelesaikan masalah sendiri dan mencoba tidak lari dari sebuah masalah.
Nah setelah itu aku berfikir aku saatnya untuk mencari suasana baru, namun lagi- lagi ada banyak ketakutan yang ada di benakku. Sudahlah,, aku mendengar suara musrifah saja takutnya bukan main, ketika ingin mengambil nasi kok tiba- iba ada suara itu aku mending tidak makan. Ini bukan dewasa, aku masih kekanak- kanakan. Sekarang ini akau memiliki PR bagaimana akau bisa menghadapi semua ini tanpa harus membuat nama baik tercoreng, prinsipku dimanapun aku harus memberi kesan yang baik terhadap semuanya, aku harus bisa memberikan sebuah penghargaan untuk para musrifahku, karena tanpa mereka pun aku tidak diperhatikan. Sungguh perjalanan hidup memang terkadang harus seperti ini.
Pertanyaan besar di benakku, “APAKAH FUNGSI DARI SEBUAH PILIHAN ITU HARUS SELALU UNTUK IPILIH SALAH SATU, DAN YANG BENAR HANYA SATU?” bisakah fungsi itu dihilangkan? Ataupun diganti?..
Komentar
Posting Komentar