Episode 10

Lanjut ke pengalaman selanjutnya, kuliah pertama dan sambil berada di pondok itu menurut ane ada kesan tersendiri, kenapa? Karena ketika di pondok pasti kita sudah bisa bangun jam 3 dan pastinya kita disuruh untuk sholat tahajjud, dan setelah itu pasti juga kita nggak bakal menyia- nyiakan waktu itu, apalagi sepi dan sangat nikmat untuk membaca Al- Qur’an, ya meskipun nggak jarang setelah tahajjud aku tertidur di mushola, itu biasa untuk kami. Setelah subuh ketika di pondok jarang yang bisa kembali tidur, karena agenda setelah subuh setoran dan itu ditarget, itu yang nggak bisa membuat kita tidur, takut ngak kecapai targetnya, akhirnya harus dipaksakan. Tapi lama kelamaan semua menjadi biasa dan terbiasa. Setelah selesai setoran sekitar jam 6 WIB, yang kuliah langsung mempersiapkan diri untuk ke kampus, eeh tapi jangan lupa juga piket. Setelah sekitar jam 6.30 WIB, kami yang kuliah pergi ke kampus. Bahagia rasanya kalau semua kewajiban terpenuhi.
Sesampai di kampuspun ane mengikuti kuliah dan pastinya harus perbanyak teman, nggak usah pandang bulu, semua anggaplah saudara seiman, iya wajar ketika pertama kali malu- malu, tapi diusahakan hilangkan, itu, maksudnya trus kita agresif gitu bukan, jadi ketika kita di kelas kenalan aja samping kanan kiri kita, namanya asalnya dan pasti kamu akan dapat ilmu dari mereka, entak logat bicaranya yang dari luar jawa, mungkin pengalaman dia belajar dan masih banyak sekali, satu lagi di dalam kelas harus aktif, karena apa?, dosen itu akan sangat mengapresiasi mahasiswa yang banyak berpendapat ataupun bertanya, yang terpenting berpartisipasi. Dan itu butuh latihan, pertama kali ane berpendapat di kelas, groginya, pasti dibenak kita takut salah ataupun ditertawakan, yah semua itu aku buang dan akhirnya aku bisa berargumen, pastinya ada kepuasan tersendiri. Dan disitu pula kita bakal dikenal teman- teman.
Tak terasa ane udah di pondok pesantren sekitar 5 bulan, dan ketika pertengahan semester satu, tiba- tiba ada seleksi untuk beberapa lomba yang diadakan di UNIDA (Ponorogo), dan Malang. Dari HMJ (Himpunan Mahasiwa Jurusan), nah disitulah awal ane berjuang untuk mengejar cita- cita, dan mencari pengalaman, Alhamdulillah ane kepilih sebagai utusan lomba Kaligrafi di pondok pesantren Darussalam Gontor satu, tepatnya di Mantingan. Alhamdulillah juga ketika kesana an enggak sendirian karena ada pendamping dari HMJ sendiri. Meskipun itu terkesan mendadak dan nggak ada fasilitas mobil dari kampus, akhirnya kita berangkat naik bus. Dan berangkatnya kalian tahu jam berapa? Jam 2 pagi, luar biasa, awalnya susah banget mau izin ke ustadzah untuk lomba, karena itu pertama kali ane izin, Alhamdulillah diizinin, sebenernya kalau izin dan sampai menginap hamper 5 hari nggak boleh tapi berhubung ada surat resmi dari kampus, diizinkan. Pengalaman pertama Alhamdulillah dapat juara 2 lomba kaligrafi, betapa bahagianya, meskipun belum juara 1 itulah perjalanan. Tapi sekali lagi semua itu tak terlepas dari do’a orang tua. Setelah itu ane ngabarin ke orang tua, dan beliaupun ikut bahagia.
Perjalanan selanjutnya lebih menantang lagi, ini sama aku diajak lomba oleh HMJ ini tingkat nasional, tapi sayangnya kejadian dulu teruang yaitu mendadak belum sempat latihan, apalagi ketika itu dua perlombaan, rasanya takut tapi bagaimana lagi. Aku sudah dapat amanah dan ya bismillah semua berjalan lancar. Setealh sampai di Malang, ternyata senengnya kita ditempatkan di hotel dan fasilitas semua disediakan, kebahagiaan tersendiri untuk anak perantauan.
Karena itu mendadak. Maka ya hasilnyapun belum ada yang dapat juara, ada sedikit kecewa, tapi tak apalah kan itu pengalaman. Banyak kenalan teman seluruh Indonesia. Dan sesampainya di pondok, ane kembali melanjutkan aktivitas pondok, harus meyetorkan hutang saat ane lomba di Malang, senang susah, kujalani dengan tersenyum.
Berjalannya waktu, dan tak terasa sekitar 6 bulan aku berada di pondok pesantren dan dengan akivitas kampus yang banyak belum lagi ikut UKM yang disitu ada tempat untuk mengembangkan kaligrafi ane. Yah ane ni termasuk santri yang mungkin biasa saja dibanding teman- teman lain, karena ya kebanyakan dari mereka hanya pondok dan mengahafal. Sedangkan yang kuliah hanya ada 3 orang. Tapi ustadah selalu menyemangatiku saat sedih ataupun hafalan belum lancar. Setelah itu ane punya semangat lagi. Ane sangat bersyukur karena ane diberi teman pondok yang sangat perhatian kepadaku, dna juga diberi keluarga kecil dari UKM yang ane ikutin, mereka selalu membuat ku tersenyum ketika bersedih.
Tapi di tengah- tengah perjuanganku, ternyata terjadi beberapa kejadian yang tidak aku inginkan, cobaan terus membuatku bingung dan entah aku harus berbuat apa, selain memasrahakan kepada Sang Pencipta. Begini, ketika aku sedang aktif dan merasa bisa mengontrol waktu, dan ustadzah selalu mengerti aku, ketika itu aku hendak berangkat wisata seni bersama teman- temanku, dan ternyata, benar- benar nggak pernah kusangka aku tidak diizinkan. Sedih, merasa kurang beruntung dan masih banyak yang harus diperbaiki, setelah izin ustadzah dan emang nggak boleh, aku curhat ke ibu, dan ibukupun ya tidak nggak bisa bantu, karena sudah konsekuensi. Dan fix aku nggak mungkin boleh ikut.
Sore dan beriringan hujan deras, aku izin kepada ustadzah untuk melihat teman- teman pergi ke Kudus, meskipun ketika sampai di kampus aku tak bisa menahan air mata yang menetes di pipi, yah aku harus menerimanya dengan ikhlas, meskipun teman- temanku menertawakan, ya sedih tapi tetap saja aku digoda, dan dibujuk- bujuk untuk ikut, dan kabur dari pondok. Sekali tidak tetap tidak, yah karena semua pasti ada hikmaknya. Aku tetap tesenyum melihat teman- teman pergi ke Kudus. Aku kembali ke pondok dan melakukan aktivitas seperti biasa. Namun aku merasa aku berada di Kudus saat itu, karena ada seseorang yang selalu memberitahukan sampai dimana, gimana keadaan teman- teman dan wisata kemana saja. Iya aku terhibur saat itu. Trimakasih someone. Hehe.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara membuat kaligrafi cabang hiasan mushaf

Taman pelangi monjali