Episode 11

Yok lanjut lagi ke perjalanan ane selanjutnya, ini mungkin tidak masuk akal, dan mungkin kalian juga bilang saya mulai nakal, eits sebentar aku kasih tau ini kisah ternekat yang aku lakukan di Jogja ini, hidup memang tidak selalu berjalan mulus, dan tau tidak, akhirnya setelah aku sholat dan selalu mohon petunjuk Allah dan tak lupa memohon restu dari orang tua, terutama ibu, sampai aku sharing sama KAJUR (ketua Jurusan), juga konsultasi ke DPA (Dosen Pembimbing Akademik), nggak cukup itu juga, aku juga meminta solusi dari musrifah dan teman yang ada di pondok, juga yang berada di kos. Dan akhirnya kebanyakan dari orang- orang yang aku mintai solusi jawabannya adalah yang sangat tidak aku fikirkan dan bayangkan. Iya itu adalah keluar dari pondok, mungkin kalian semua akan tercengang, tapi memang fakta, aku keluar dan ya semua Alhamdulillah diberi kelancaran oleh Allah dan orang tuapun meberi ridho padaku. Tapi sebelum aku pindah, aku telah memikirkan ke depannya aku ahrus mampu mengupgrade prestasiku akademik, maupun non akademik. Dan Akhirnya bismillah keluar dari pondok untuk mencari pengalaman di luar. Dan satu pesan orang tua jaga diri baik- baik, dan ketika aku di kos harus mengikuti suatu kajian untuk menambah aqidah dan wawasanku. Iya ibu Alhamdulillah aku bisa ikut kajian setiap hari senin sampai kamis di laboratorium agama UIN Sunan Kalijaga.
Dan tahu apa yang aku rasakan ketika pindah ke kos dan baru itu merasa kesepian memang seperti itu, karena memang kos saat itu memang banyak yang masih kosong. Nah ketika itu aku terkena musibah, Ya Allah aku jatuh dari motor, kecelakaan tunggal, Alhamdulillah aku berada di mushola ustadzku yang aku ikut mengajar pesantren kilat bersama ustdzku. Tapi ya ketika pulang aku sendiri di kos, aku hanya bercerita kepada temanku yang masih ada di Jogja, karena kebanyakan teman- temanku peulang kampung. Begitulah hidup sendiri, karena kita belum mampu menyesuaikan dengan lingkungan sekitar, ketika itu aku hanya menangis sendirian di kamar, tapi tidak apa itulah awal dari sebuah kemandirian.
Hari berikutnya sama, aku menjalani dengan cara kunikmati setiap alurnya, karena jika kita hanya mengeluh maka akan semakin berat kita menjalani hidup. Dan Alhamdulillah setelah sekitar satu bulan, ada teman yang datang dan mengisi kamar- kamar kosong di tempatku. Aku merasa sangat bersyukur ya mereka datang dengan ramah, dan kita langsung bisa berbaur satu dengan yang lainnya. Lebih senangnya lagi mereka seangkatan denganku yaitu calon semester 3 karena saat itu UAS (Ujian Akhir Semester). Kami seperti keluarga sangat akrab, kita masak bareng, makan bareng dan kamipun sering bertukar pengalaman, cerita, meskipun awalnya kita malu- malu, tapi ketika kita ingin mendapatkan banyak teman ya sekali lagi tak apa kita sok dekat saja, buang rasa malu, eh tapi ya ada batasnya. Dan Alhamdulillah lagi teman- teman kalu diajak untuk sholat berjamaah, tadarus bersama dan juga seminar- seminar, mereka dengan senang hati meng iyakan. Aku jadi ikut senang merasakannya, jadi kita bersama- sama memperbaiki rohani kita dengan saling mengingatkan antara satu dengan yang lain. Sekali lagi terima kasih keluargaku di Wisma Arundina.
Jalan setapak demi setapak kulewati dengan semangat dan tetap optimis ke depan. Dan tekad aku keluar dari pondok adalah untuk mengasah potensi, Alhamdulillah Allah mempermudah, aku mengikuti beberapa lomba di Yogyakarta, tepatnya MTQ, awalnya dari kecamatan, kemudian mewakili kabupaten, meskipun 2 kali lomba belum mendapat juara 1, Alhamdulillah sangat bersyukur aku dapat juara 1 di lomba ketigaku. Dan insyaAllah mewakili kabupaten untuk tingkat provinsi, minta do’anya ya sahabat- sahabatku.
Dan tidak disangka, suatu hari aku dihubungi dari Suka TV, untuk diwawancarai, awalnya aku tak mempercayainya, dan akhirnya crew meyakinkanku, ternyata benar diwawancarai tentang prestasi, apa saja yang sudah didapat dan sebagainya. Aku tak menyangka, ya memang nyata. Dan acaranya seperti di talkshow, ya meskipun ini hanya TV lokal, malah hanya lingkup UIN tapi Alhamdulillah, bersyukur diberikan kesempatan untuk itu. Kata crewnya mereka dapat informasi dari bidang akademik dan disana ternyata banyak piagam- piagamku, mungkin dulu aku pernah mengajukan ke akademik, karena ya optimis aja, mungkin akan bisa dapat beasiswa. Semua itu telah diatur Allah.
Mungkin ini closing, aku di kelas termasuk mahasiswa yang dibilang ceria, yah karena semua aku anggap keluarga, di UKM pun begitu, dan organisasi Eksternal (IMM) aku bahagia dan semua aku jadikan refreshing, meskipun aku tak bisa sering bahkan sangat jarang buat jalan- jalan, karena aku kuliah, dan setelah itu sibuk di UKM, juga di organisasi eksternal (IMM), juga diberi amanah ustadzku untuk membantu di lembaga kursus di luar kampus, setelah itu aku juga memanfaatkan waktu mudaku untuk menerapkan ilmu, dan mencari pengalaman yakni mengajar anak SD dan SMP juga pernah di MA Mu’alimat. Ya terkadang aku merasa bosan dan jenuh, tapi aku selalu mendapat semangat dari orang tua, juga kembali ke impian awalku, juga akupun merasakan apa itu suka dengan lawan jenis, tapi, aku jadikan ia motivatorku, yah benar jadi bagaimana kita ada untuk dia, dan dia nyaman, dan termotivasi tidak terlarut dalam apa itu senang- senang dan hura- hura. Katakana NO!, karena masa depan itu harus dicapai dengan kerja keras yang luar biasa. Oh iya satu lagi, antisipasi, ketika kamu ke jogja jangan lupa bawa SIM dan STNK, wajib itu karena di Jogja banyak tilangan. Hehe
Semangat untuk belajar di Jogja.
Jogja kota yang indah
Jogja bertabur cinta dan cita
Jogjalah kita gapai impian setinggi langit. Terima kasih, salam semangat untuk sahabat pembaca. Tersenyumlah dalam menjalani hidup, susah maupun senang. ACT NOW.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara membuat kaligrafi cabang hiasan mushaf

Taman pelangi monjali