Cinta Yang Terbalas
Terik
menyengat di siang itu,
Menyapa
adinda disepanjang aktivitasnya yang begitu padat, hingga ia melupakan makan
siangnya,
Deg,
tiba- tiba ada yang memanggil dari dalam hatinya
Adinda
mengingat ibunya yang sedang di rumah, berkali- kali ketika ia menelfon ibu,
ibu selalu tidur hingga larut, betapa letihnya ibu,
Setelah Adinda presentasi tentang acara pamerannya, tanpa
menghiraukan teriknya matahari di siang itu, Adinda bergegas ke stasiun untuk
membeli tiket ke Solo. Karena jalan yang biasa ia lalui ditutup akhirnya dia
terpaksa harus balik arah. Bukan masalah baginya, sesampai di stasiun
Lempuyangan, wajah yang awalnya berseri- seri karena tak sabar ingin pulang
melihat ingin melihat ibunda tercinta, tiba- tiba muram, lalu ia mendekat untuk
memastikan tiketnya masih atau sudah habis, Adinda menerobos di kerumunan orang
di Stasiun.
Bruk..
ia terjatuh
Seorang
wanita tua bertanya sambil mengulurkan tangan yang penuh dengan tentengan dan
dipunggungnya terdapat keranjang besar berisi makanan pasar yang ia jual di
Stasiun,
“Nak,
kamu baik- baik saja?” dengan suara yang lirih
“iya
ibu saya baik- baik saja” sahut Adinda sambil kugapai uluran tulus dari ibu tua
itu.
Ia bertanya
kembali,” Kenapa kamu terlihat buru- buru?”
“iya
ibu, karena saya ingin membeli tiket untuk pulang, tapi ternyata tiket jam 2 dan
jam 4 sudah habis”, jawab Adinda dengan wajah tertuduk lesu.
“tiket
selanjutnya masih ada nak, tenang saja, pasti kamu bertemu dengan ibumu”,
berharap adinda semangat kembali.
“iya
Ibu, terima kasih sekali”, Adinda mulai bersemangat lagi.
Lalu Adinda kembali ke rumah makan,
karena temannya telah memesankan nila bakar untuknya. Dalam perjalanan pulang
Adinda bergumam pada dirinya sendiri. “Betapa luar biasanya perjuangan seorang
ibu, seperti ibu tadi ia rela mengorbankan punggunya untuk mencari nafkah untuk
bertahan hidup, dan kini punggungnya sudah terlihat membungkuk, wajahnyapun
keriput. Tapi beliau masih sudi untuk menolong orang lain, betapa menyedihkan
sekali apabila orang tua yang telah berjuang mati- matian demi anaknya, tapi
anaknya tak memperhatikannya, naudzubillahi min dzalik, jangan sampai ya Allah,
semoga keluarga dan terutama anaknya mencintai ibu tadi”.
Belum sampai rumah makan yang Adinda
tuju, ia berhenti sebentar dan melihat handphonennya, tiba- tiba.....
“Innalilahi
wa innailahi roji’un”, Adinda reflek dan terkejut hingga ia tak sanggup
melanjutkan menulis pesannya.
“Ya
Allah”...ia turun dari motor.
“Kasian
sekali anak kucing ini”, Adinda menggendong anak kucing yang kaki kanan kucing
tersebut pincang dan berdarah karena tertabrak mobil yang begitu laju jalannya.
“Sungguh
tega pengendara itu” gumamnya sambil ia mengelus kucing tersebut.
Kemudian
ia membawa kucing tersebut dan mengobatinya, setelah itu ia biarkan kucing
tersebut menemukan ibunya. Meskupin hati kecilnya menginginkan merawat kucing
tersebut, tapi apalah daya lebih baik kucing itu bertemu dengan orang tuanya
karena cinta dan kasih orang tua terutama ibu itu akan menjadi obat yang sangat
mujarab bagi anaknya.
Setelah ia mempertemukan kucing
dengan ibunya, ia pergi ke rumah makan. Ia lanjukan mengobrol dengan teman-
temannya, lalu sekitar 10 menit ia bergegas ke Stasiun Lempuyangan dan membeli
tiket pulang, ia lari dan terus berdo’a, sayang sekali tiket telah habis pas
antrian di depannya. Hati hancur, dan ingin ia menangis. Lalu ia berbalik badan
dan iapun pulang ke kos, dengan wajah sedih bercampur bimbang.
Tapi ketika Adinda berjalan pulang,
tiba- tiba ada seoarang bapak- bapak sambil menggendong anak kecil itu menawari
beberapa calon penumpang, akan tetapi semua menolak dan saya mendengar itu,
lalu saya memanggil bapak itu dan langsung saya membayar tiket tesebut dengan
uang sebesar Rp. 8000, semua kesedihan Adinda pecah menjadi kebahagiaan dan
Adinda tersenyum dan begitu bahagia. Akhirnya ia bisa pulang dan bertemu ibunda
tercinta.
Jarum jam berubah menunjukkan pukul
16.00 WIB, dan ia diantarkan oleh temannya dan Adindapun pas sekali ia naik
kereta dan beralih naik bus, tapi ketika ia berjalan ke Terminal Tirtonadi
Solo, saking fokusnya dengan Hp karena ia mengabari oarang tuanya, motor dengan
lajunya hampir menyerempet Adinda, “Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan
saya”, saya tidak membayangkan jika saya celaka” pasti orang tuapu sedih,
Terima kasih Ya allah” gumamnya disepanjang perjalanan.
Alhamdulillah tepat adzan isya’ Adinda tiba di
Sragen dan ia duduk sebentar di masjid,sang ibu tercinta datang dan
menjemputnya. Betapa bahagianya Adinda dengan perjuangannya di hari itu
akhirnya ia bertemu dengan ibunya dan ia bersalaman derta mencium ibu
tercintanya, sambil membisikkan “Adinda sayang Ibu”. Sekian.
Komentar
Posting Komentar